CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 14 September 2012

Belajar mendengar

“eh, kamu tu salah sholat asharnya…tadi harusnya baca al-fatihah di setiap rakaat, kamu belum to?”, kata Rina kepada Nanik, umur mereka sekitar 7-8 tahun. Tanpa ba-bi-bu, Nanik segera berdiri dan mengulangi sholatnya. Rina yang berada di samping Nanik kemudian mendekatinya lagi setelah ia mengucapkan salam, “Nik, kamu lupa ya, kalau pas duduk tu ada mengacungkan jari..kok kamu tadi gak ada?”. Hmm..untuk yang kedua kalinya Nanik mengulangi sholatnya, gak ada protes, gak  ada pembelaan.

Percakapan itu terjadi di musholla SMK 7, sebulan yang lalu kira-kira. Sambil melipat mukena, saya senyum-senyum sendiri mendengar percakapan mereka. Hupfh…lugu dan polos banget ya anak kecil tu. Mau mendengarkan masukan orang lain dan menyadari kesalahan, kemudian memperbaikinya tanpa gengsi. Andai saja…sifat ini bisa terpelihara sampai dewasa… hmmm… 

Mau mendengarkan orang lain itu salah satu kepribadian seorang muslim.. gampang-gampang susah sebenernya. Kebanyakan manusia lebih banyak yang suka berbicara daripada yang suka mendengarkan. Padahal Allah kan menganugerahi dua telinga dan satu mulut untuk setiap orang, harusnya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara kan? Wallahu a’lam. “fal yaqul khoiron auliyasmut”, berbicara baik atau diam.

Tengok aja..sebagian besar masalah yang terjadi di sekitar kita terjadi akibat manusia yang terlalu banyak berbicara dan  sedikit mendengar, bahkan mungkin nggak mau mendengarkan. Ada temen lagi curhat, eh..kitanya malah mengganti topik pembicaraan dari “dia” jadi “aku”. Tahan diri dulu lah..mungkin kita juga punya cerita yang sama, mungkin lebih spektakuler dari ceritanya, tapi ini waktunya dia, jangan ganggu, please..

Trus, lebih sering mana jawabannya jika kita diberi masukan/ dikritik oleh orang lain:
  •  Ok, terimakasih ya..
  •  Hmm, gt ya? Sebenernya aku tu karena…
Ngeles. Sikap negatif yang bahaya jika menjadi kebiasaan. Kalau salah, ya salah aja.. Kecuali kalau difitnah lho ya..itu beda lagi. 

Allah SWT suka dengan manusia yang suka bertaubat kan. Bukan berarti dikit-dikit maksiat jadi sering taubatnya lho..(doh). Yuk, belajar hidup tanpa riya’, yang melakukan segala sesuatu tanpa disertai rasa sombong walaupun hanya sebesar biji sawi. Yuk, belajar hidup tanpa syirik, yang melakukan segala sesuatu diniatkan hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Yuk, senantiasa meluruskan niat. :)



Hadits Arba'in ke-15

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah hadits
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar