“eh, kamu tu salah sholat asharnya…tadi harusnya baca
al-fatihah di setiap rakaat, kamu belum to?”, kata Rina kepada Nanik, umur
mereka sekitar 7-8 tahun. Tanpa ba-bi-bu, Nanik segera berdiri dan mengulangi
sholatnya. Rina yang berada di samping Nanik kemudian mendekatinya lagi setelah
ia mengucapkan salam, “Nik, kamu lupa ya, kalau pas duduk tu ada mengacungkan
jari..kok kamu tadi gak ada?”. Hmm..untuk yang kedua kalinya Nanik mengulangi
sholatnya, gak ada protes, gak ada
pembelaan.
Percakapan itu terjadi di musholla SMK 7, sebulan yang lalu
kira-kira. Sambil melipat mukena, saya senyum-senyum sendiri mendengar
percakapan mereka. Hupfh…lugu dan polos banget ya anak kecil tu. Mau
mendengarkan masukan orang lain dan menyadari kesalahan, kemudian memperbaikinya
tanpa gengsi. Andai saja…sifat ini bisa terpelihara sampai dewasa… hmmm…
Mau mendengarkan orang lain itu salah satu kepribadian
seorang muslim.. gampang-gampang susah sebenernya. Kebanyakan manusia lebih
banyak yang suka berbicara daripada yang suka mendengarkan. Padahal Allah kan
menganugerahi dua telinga dan satu mulut untuk setiap orang, harusnya manusia
lebih banyak mendengar daripada berbicara kan? Wallahu a’lam. “fal yaqul
khoiron auliyasmut”, berbicara baik atau diam.
Tengok aja..sebagian besar masalah yang terjadi di sekitar
kita terjadi akibat manusia yang terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengar, bahkan mungkin nggak mau
mendengarkan. Ada temen lagi curhat, eh..kitanya malah mengganti topik pembicaraan
dari “dia” jadi “aku”. Tahan diri dulu lah..mungkin kita juga punya cerita yang
sama, mungkin lebih spektakuler dari ceritanya, tapi ini waktunya dia, jangan
ganggu, please..
Trus, lebih sering mana jawabannya jika kita diberi masukan/
dikritik oleh orang lain:
- Ok, terimakasih ya..
- Hmm, gt ya? Sebenernya aku tu karena…
Ngeles. Sikap negatif yang bahaya jika menjadi kebiasaan.
Kalau salah, ya salah aja.. Kecuali kalau difitnah lho ya..itu beda lagi.
Allah SWT suka dengan manusia yang suka bertaubat kan. Bukan
berarti dikit-dikit maksiat jadi sering taubatnya lho..(doh). Yuk, belajar
hidup tanpa riya’, yang melakukan segala sesuatu tanpa disertai rasa sombong
walaupun hanya sebesar biji sawi. Yuk, belajar hidup tanpa syirik, yang
melakukan segala sesuatu diniatkan hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Yuk,
senantiasa meluruskan niat. :)
Hadits Arba'in ke-15
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah
hadits
Dari Abu
Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata
baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia
menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar