Sepekan di rumah orang yang sammmmmma sekali belum ada
yang kenal sebelumnya. Gak punya pengetahuan apapun tentang LDII. Gak ada
hubungan darah sedikitpun. Tapi ada satu yang nyambung: bahasa. Trus ngapain
aku di sana?? Gak ada misi lain selain aku melaksanakan permintaan kakak
sepupuku tercinta untuk menemani calon istrinya dalam perjalanan Jogja-Sumsel.
Titik.
Kalau cuma itu, bisa aja ya aku langsung pulang setelah
sampai di sana. Beli tiket bis sampai Bakauheni, trus naik Ferry mpe Merak,
naik bis mpe stasiun, pesen tiket kereta mpe Jogja, DONE. Misi selesai. Tapi
apa iya aku udah jauh-jauh ke sini cuma kayak gitu aja? Kalau inget kerjaan di
Jogja, aku akan pulang. Tapi, inget perhelatan akbar pernikahannya tinggal
sepekan lagi. Oke, gue akan nikmatin keluarga baru ini. Yah..hitung-hitung
belajar hidup di keluarga baru laah.. (blush)
Hari pertama aku di sini. Belitang BK 10. Semuanya baik-baik
saja. Semua anggota rumah di sini sudah aku ‘dekati’. Mulai dari kepala
keluarga alias calon mertua kakak gue, sampai anaknya pembantunya yang masih
bayi. Horraaai. Sukses besar. Aku pikir, tidak akan susah berbaur dengan mereka
selama paling tidak sepekan ke depan. Yang bikin aku merasa ‘sesuatu’ di sini
adalah mereka semua berdialog pake bahasa Jawa. Ya karena emang transmigran...
malah ternyata aku terlihat sedikit aneh kalau pake bahasa Indonesia. Tapi,
lebih WOW lagi ketika aku ikut ke pasar. Aaaaaaa ...ternyata mereka semua pake
bahasa Jawa! Berasa di pasar Kranggan aja ni...
Seiring berjalannya waktu, aku bosan! Padahal kesibukan
menuju hari pernikahan sudah sangat terlihat. Tapi justru aku bingung mau bantu
di sebelah mana..ujung-ujungnya: cuci
piring! Ih waw. “Gak ada pekerjaan yang lebih keren ya? “, tanya kakakku. Ah,,banyak sebenarnya,,tapi udah dikerjain
banyak tangan ibu-ibu..dan cara mereka ngerjainnya juga udah beda sama yang
selama ini tak pahami. Ah, sudahlah,,,gak papa. Cuci piring juga pekerjaan yang
jelas. Selain karena aku prihatin dengan piring gelas kotor yang plan tapi
pasti menggunung di tempat cucian, tapi gak ada yang mau ngurangi. T.T
Hal yang aku syukuri adalah aku sudah bawa ‘suamiku’ ini. :o
Tempat aku curhat dan menghiburku lewat apa yang ditampilkan dari folder
‘music’ yang isinya campuran OST, murottal, dan al ma’surat. Wkwkwk. Selain
itu, terimakasih kepada teman-teman SABRINA yang berusaha keras untuk sabar
menerima sms curhatanku dari sini, walaupun mereka juga sedang galau seribu
jiwa. Haha. Juga Jude, hehe. (peace)
Ada yang lucu! Satu hal yang ditanyain ibu di sini: wis
ngaji to mbak? Dan dengan polos aku jawab: Sampun, Bu.... (krikkrikkrik). Aku
tahu apa yang dimaksud beliau, tapi daripada aku jawab: “Enggak”, aku tahu aku
tidak akan sanggup hati menjawab pertanyaan selanjutnya. Jadi cari jawaban
aman... “Sampun Bu, Al Qur’an kita sama kan“.
^ditulis di bulan desember, kehilangan menyenangkan #part 1
