CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 03 Maret 2013

di SumSel

Sepekan di rumah orang yang sammmmmma sekali belum ada yang kenal sebelumnya. Gak punya pengetahuan apapun tentang LDII. Gak ada hubungan darah sedikitpun. Tapi ada satu yang nyambung: bahasa. Trus ngapain aku di sana?? Gak ada misi lain selain aku melaksanakan permintaan kakak sepupuku tercinta untuk menemani calon istrinya dalam perjalanan Jogja-Sumsel. Titik.

Kalau cuma itu, bisa aja ya aku langsung pulang setelah sampai di sana. Beli tiket bis sampai Bakauheni, trus naik Ferry mpe Merak, naik bis mpe stasiun, pesen tiket kereta mpe Jogja, DONE. Misi selesai. Tapi apa iya aku udah jauh-jauh ke sini cuma kayak gitu aja? Kalau inget kerjaan di Jogja, aku akan pulang. Tapi, inget perhelatan akbar pernikahannya tinggal sepekan lagi. Oke, gue akan nikmatin keluarga baru ini. Yah..hitung-hitung belajar hidup di keluarga baru laah.. (blush)

Hari pertama aku di sini. Belitang BK 10. Semuanya baik-baik saja. Semua anggota rumah di sini sudah aku ‘dekati’. Mulai dari kepala keluarga alias calon mertua kakak gue, sampai anaknya pembantunya yang masih bayi. Horraaai. Sukses besar. Aku pikir, tidak akan susah berbaur dengan mereka selama paling tidak sepekan ke depan. Yang bikin aku merasa ‘sesuatu’ di sini adalah mereka semua berdialog pake bahasa Jawa. Ya karena emang transmigran... malah ternyata aku terlihat sedikit aneh kalau pake bahasa Indonesia. Tapi, lebih WOW lagi ketika aku ikut ke pasar. Aaaaaaa ...ternyata mereka semua pake bahasa Jawa! Berasa di pasar Kranggan aja ni...

Seiring berjalannya waktu, aku bosan! Padahal kesibukan menuju hari pernikahan sudah sangat terlihat. Tapi justru aku bingung mau bantu di  sebelah mana..ujung-ujungnya: cuci piring! Ih waw. “Gak ada pekerjaan yang lebih keren ya? “, tanya kakakku.  Ah,,banyak sebenarnya,,tapi udah dikerjain banyak tangan ibu-ibu..dan cara mereka ngerjainnya juga udah beda sama yang selama ini tak pahami. Ah, sudahlah,,,gak papa. Cuci piring juga pekerjaan yang jelas. Selain karena aku prihatin dengan piring gelas kotor yang plan tapi pasti menggunung di tempat cucian, tapi gak ada yang mau ngurangi. T.T

Hal yang aku syukuri adalah aku sudah bawa ‘suamiku’ ini. :o Tempat aku curhat dan menghiburku lewat apa yang ditampilkan dari folder ‘music’ yang isinya campuran OST, murottal, dan al ma’surat. Wkwkwk. Selain itu, terimakasih kepada teman-teman SABRINA yang berusaha keras untuk sabar menerima sms curhatanku dari sini, walaupun mereka juga sedang galau seribu jiwa. Haha. Juga Jude, hehe. (peace)

Ada yang lucu! Satu hal yang ditanyain ibu di sini: wis ngaji to mbak? Dan dengan polos aku jawab: Sampun, Bu.... (krikkrikkrik). Aku tahu apa yang dimaksud beliau, tapi daripada aku jawab: “Enggak”, aku tahu aku tidak akan sanggup hati menjawab pertanyaan selanjutnya. Jadi cari jawaban aman... “Sampun Bu, Al Qur’an kita sama kan“. 

^ditulis di bulan desember, kehilangan menyenangkan #part 1  

kehilangan kakak


Huaaaa...bentar lagi aku kehilangan kakak!
Yap, tepat H-7 sebelum pernikahannya. Bukan kakak kandung memang, dia kakak sepupuku.. 


Kehilangan menyenangkan. Tepat sekali. Sosok kakak yang dia berikan selama ini ke aku mungkin tak akan pernah kurasakan lagi. Karena dia sudah punya adik baruuuu. Aku cemburuuuu,,,,  T.T 


Kalau kata ibukku.
1.       Agama  jelas mumpuni, ustadz gitu lo.
2.       Supel. Pinter banget buat curi perhatian orang, termasuk orangtuaku.. gak pernah bilang gak kalau ditawari sesuatu, disuruh juga selalu mau dan bertanggung jawab.
3.       Fisik not bad laaahhh..
4.       Penghasilan insya Allah ada...
5.       Apalagi cobaaaa?


Barakallahu lakuma, aku hanya bisa berdoa semoga dilapangkan sampai prosesnya nanti. Dan akhirnya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, rahmah, dan barokah...
Kalau kata temenku, bisa jadi dia juga akan cemburu ketika kamu punya “mas” baru, din....
Oya? Kayaknya sih kagak, wkwkwkwk

^ditulis di H-7 pernikahannya, kehilangan menyenangkan #part 2 

Kamis, 29 November 2012

5cm


Kamu taruh di sini.....jangan menempel di kening.
Biarkan...
dia...
menggantung..
mengambang...
5 centimeter...
di depan kening kamu..

Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bias. Apapun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalau kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak akan nyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu akan jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri...

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan...sehabis itu yang kamu perlu...cuma...

Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering menatap ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja...
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...
Serta mulut yang akan selalu berdoa..

Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang-orang biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang yang selalu percaya akan kejaiban mimpi keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapa pun... dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi  itu akan terwujud nantinya karena kmu hanya harus mempercayainya.
Percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu...

(Dirgantoro, 5cm, 362-363)